Serunya Grhatama Pustaka Yogyakarta

Senin, 4 Januari 2016. Ada amanah untuk survey lokasi sebuah acara komunitas HE. Alternatif pertama adalah Grhatama Pustaka yang berlokasi di samping Jogja Expo Centre, kawasan Gedongkuning, Jogja.

Grhatama Pustaka, sebuah perpustakaan yang menurut berita merupakan terbesar di ASEAN dan baru saja diresmikan pada tgl 21 Desember 2015 ini menawarkan bbrp wahana yg cukup menarik.

Tersedia zona anak yg terdiri dari 4 ruang, diantaranya:

1. Ruang bermain anak. Di ruang ini terdapat tenda2an untuk kemping2an, dan sarana bermain ala PAUD lainnya. Ruangan full AC bikin betah di dalamnya.

2. Ruang Dongeng. Di sini selain terdapat sarana mendongeng juga bersiaga petugas yg siap mendongeng setiap ad pengunjung yg datang. Asik, kan…. anak pasti suka… ruangan pun nyaman dengan ACnya.

3. Ruang musik. Sayangnya alat musiknya belum datang, jadi ruang ini masih sepi. Meski ada hiburan pengganti berupa akuarium yg cukup besar menghias dindingnya.

4. Ruang koleksi anak. Tempat ini dilengkapi beragam buku anak yang bagus2 dengan beraneka model dan bentuk buku yg menarik. Sayangnya, di ruangan ini ACnya rusak. Jadinya, agak mengganggu kenyamanan membaca krn suasana menjadi hangat hangat berkeringat.🙂

Keempat ruangan tersebut menempati area basement. Selantai dengan musholla dan theater 6D

Di lantai atasnya, terdapat ruang baca utama dengan ribuan koleksinya. Ada juga ruang khusus untuk koleksi buku langka. Namun, di ruang utamalah dimulainya cerita.

Oya, sebelum ke cerita pengalaman kami (saya dan Faqih) kemarin, ada satu rule yg cukup unik di tempat ini. Setiap pengunjung akan memasuki ruangan, ruang manapun itu, pengunjung wajib melepas alas kaki, dan telah disediakan kantong penyimpanan alas kaki yg sebaiknya dibawa masuk, disimpan di rak yg tersedia. Sehingga selama menikmati waktu membaca atau apapun di sini, kita tak perlu was was kalau2 alas kaki kita berganti pemakai. hehee…..

Baiklah, inilah pengalaman kami waktu bermain di Grhatama Pustaka.

Setelah mengelilingi ruang demi ruang, kami pun masuk ruang baca utama. Di antara puluhan rak yang berderet-deret, kami menuju rak terluar saja.

Waktu nemu buku tentang siklus air, awalnya Faqih tertarik, lalu membacanya. Kami pun mencari2 tempat yang kosong. Ketemulah beberapa kursi kosong di pojokan. Baru sebentar baca, perhatian Faqih sudah beralih kepada seorang pengunjung di sebelahnya yg sedang asyik menggambar.

Tiba2 Faqih beringsut mendekati si om. Lalu meluncurlah pertanyaan yg diluar dugaanku.

Akhirnya kedua cowok beda usia itu pun asyik ngobrol. Dr kapan suka gambar, gambarnya buat apa, pekerjaan si om apa, dll.

 

Sadar ini bukan ruang diskusi, meskipun ngobrolnya pelan, Faqih kupanggil dg memancingnya dg sebuah gambar diagram siklus air di bumi.

Sejenak tertarik, kemudian kembali ke tempat duduk, dan mulai membaca lagi.

 

E tapi…. kali ini membacanya bukan dengan duduk tenang, tapi dengan duduk sambil memutar2 kursi. Berhenti sejenak lalu menanyakan hal yg tidak dipahaminya. Setelah saya jawab, Faqih pun lanjut baca lagi, dan tetap dengan memutar2 kursi yg ia duduki.

Belum kelar dg buku yg ada, sudah pergi ke rak lain, kembali mencari buku. Dan ketemu sebuah buku popup.

Karena tampilannya yg menarik, Faqih pun cukup lama memperhatikannya. Dan ketika tiba di akhir halaman, ditemukan sebuah lipatan kertas tebal yg ketika dibuka, taraaaa……. ada pop up struktur tubuh manusia seukuran nyata tubuh manusia. Besarnya, tentu saja berkali kali lipat dari ukuran bukunya.

Dengan antusias Faqih membuka seluruh bagiannya. Karena membutuhkan ruang yg cukup lebar, sampai2 agak menghalangi jalur pengunjung yg mau lewat. Untungnya mbak2nya baik, cuma senyum aja dan cukup maklum. Ada yg kaget dan takut juga, sih, karena gambar di bagian kepalanya nongol tengkorak gitu….. Maaf, ya, mbak…. hehe….

Buat Faqih, ini buku bener2 keren dan memang mampu menyedot perhatiannya. Krn membacanya saja butuh bergerak kesana kemari, bisa dibuka2 di sana sini. Asik pokoknya….

Tapi….. melihat pengunjung lain yg duduk tenang, khusyuk dengan buku, atau lepi, ato malah dg hp masing2, sempat terpikir, ni bocah kok gerak mulu, yak….

Awalnya pengen malu, sih…. tapi keburu nyadar, ni anak kan memang kinestetis. Tak perlu mbanding2in dgn mereka yg bisa nyaman dan tenang di posisinya masing2, sementara ni anak sibuk dg gerakan2nya, yo wislah. Yang penting tdk menimbulkan kegaduhan yg berpotensi mengganggu pengunjung perpus lainnya.

Jadi lebih enjoy, memang. Gak perlu merasa aneh, apalagi rasa turun gengsi. Gengsi saya kayaknya ketinggalan di parkiran, trus ngambek, dan pergi entah ke mana. ehh…..😀

Apalagi di akhir moment, kami mendapat kesempatan nonton film 6 Dimensi. Yang selain gambarnya seperti beneran karena efek kacamata 3 dimensi, penonton pun bisa merasakan sensasi gerakan, seolah2 sedang benar2 menempuh petualangan yang ada di dalam film itu.  Gerakannya, getarannya, goncangannya, tanjakannya, turunannya, dinginnya salju, gempuran roketnya, benturan bebatuannya….. dan semuanya…. Capeknya kerasa…. Tapi serunya, bikin nagih. Beneran….. Kalo gak percaya, coba aja sendiri.😀

Dan serunya lagi, selama pergub tarif belum turun, layanan ini masih akan GRATIS.

Keseruan yang komplit. hehee….

Itulah yg membuat kami pengen ke sana lagi. Membawa pasukan yg kemarin blm sempat ikut survey.

Grhatama Pustaka, insyaAllah, hari ini kami akan kembali…….

Ada yang mau seru-seruan kayak kami? Ke Grhatama Pustaka aja…. mumpung masih gratis. hihihiii…..

Berpikir dan Bertindak Positif

Berfikir dan Bertindak Positif

 

Ust. Abdullah Haidir, Lc

 

Jangan ratapi kekurangan mu, boleh jadi dia menjadi sebab berkurangnya dosa-dosamu, disaat banyak orang  berlumuran dosa karena kelebihannya.

 

Jangan sesali keterhalangan mu, boleh jadi dia menjadi sebab terhalangnya bencana menimpamu, disaat banyak orang tertimpa musibah dengan kebebasannya.

 

Jangan musuhi keterbatas anmu, boleh jadi justeru dia yang membatasimu dari sikap tercela.

 

Disaat banyak orang menjadi tercela karena berbagai fasilitas yang dimilikinya.

 

Allah tidak akan menciptakan kekurangan, halangan dan keterbatasan yang bersifat mutlak.

 

Justeru bisa jadi berawal dari itu semua, dia akan menemukan kelebihan dan jalan hidup terbaik.

 

Sebab yang Dia janjikan adalah kemudahan dan solusi bagi siapa yang bersungguh-sungguh mencarinya seraya menjaga takwanya…..

 

Selalulah  menilai positif, berpikir positif dan bekerja positif. Teruslah melangkah mencari ridha Allah.

 

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi,

 

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى إِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّى شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

 

“Aku tergantung persangka an hamba-Ku kepada-Ku.

Aku selalu bersamanya apabila dia mengingat-Ku.

 

Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya pada diri-Ku.

 

Jika dia mengingat Aku di hadapan makhluk, maka Aku akan menyebutnya di hadapan makhluk yang lebih baik dari mereka.

 

Jika dia mendekati Aku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta.

 

Jika dia mendekati Aku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku seraya berjalan, Aku akan mendatanginya seraya berlari.” (Muttafaq alaih)

Oleh-oleh dari JIHE

📝📝📝📝

Jogja Islamic Home Education.

 

Joglo Dahar Jakal,

26 Desember 2015

 

🌸

Dibuka dg penampilan duo gadis cilik Zahra dan Hazima yg membaca surah Al Ghasyiyah dan Al Buruj. Sy sempat mergokin dua gadis kecil ini murojaah sblm acara dimulai. Itu saja sy sdh takjub edisi satu.

 

🌻

Diikuti penampilan dua remaja seusia SMP dan SMA yg menampilkan cerita berbahasa Jepang dan puisi berbahasa Arab.

Belakangan diketahui, ternyata mereka jg aktif dlm mengasuh program bahasa utk adik2 mereka yg tergabung di JIHE.

#takjub edisi dua. kecil2 jd mentor 😍

🌼

Bunda Titin Yuri

Ibu 3 anak, 7 th tinggal di jepang, ketika mau pulang ke Indonesia prihatin dg berita2 di media ttg sekolah dan pendidikan di Indonesia.

Beliau berusaha menempatkan diri sebagai ibu, teman, dan guru bagi putra putrinya.

Merancang jauh2 hari pendidikan anak2nya.

Menekankan bhw pendamping paling baik utk anak perempuan adalah IBUnya.

 

Seorang ibu harus terus belajar, untuk dirinya, sekaligus belajar utk menjadi contoh bagi anak2nya.

 

Mempersiapkan anak perempuannya bukan untuk mjd wanita pekerja, namun untuk menjadi istri, ibu, bahkan nenek yang baik.

#takjub edisi 3.

 

🌺

Bunda Miftahul Jannah

(Istri Sakti eks SO7)

Awalnya berpandangan bhw orang2 yg berHS itu mrpkn orang2 yg bermasalah secara sosial. Tapi, itu dl. Dan skrg jatuh cinta dg HS dan terjun di dalamnya, diterapkannya untuk putri kesayangan beliau.

Beliau adlh seorang psikolog.

Mnrt beliau, sekolah di Indonesia kebanyakan blm bisa mjd tempat yg aman utk anak.

Blm bnyk guru yg mampu mjd uswah bg murid2nya.

Anak bisa baca tulis saja sudah cukup sbg modal belajarnya. Tetapi mendekatkan anak dg Al Qur’an dan sunnah lebih utama.

 

💐

Bunda Yayah Komariah

 

Pengalaman beliau, dr berHS untuk ke-5 putra-putri sejak 2004, jadi bs nabung buat umroh sekeluarga, dan baru pulang senin lalu.

subhanallah….

takjub saya to be continue. 😍

 

Mengawali HS krn faktor ekonomi. Melepas anak ke negeri gak tega, mau ke IT gak kuat, sekalipun di sekolah yg beliau dirikan sendiri 😱😭

 

Ketika menyekolahkan anak, yg mjd guru ternyata tdk hny gurunya, melainkan juga satpamnya, pedagang2 di lingkungan sekolahnya, teman2nya dll.

 

Dan inilah resiko terbesar perubahan perilaku anak berasal, yaitu lingkungannya.

 

Kesimpulan beliau dr pendidikan yg selama ini ada:

Belajar akademik bertahun2, ternyata tidak banyak yg bisa diamalkan dlm kehidupan sehari2.

Mau dpt paket komplit bekal hidup sehari2? Ya belajar al Qur’an dan hadits.

 

Belajar akademik 1 tahun cukup utk tiap level.

 

Kelas 1-5 belajar Qur’an dan akhlak. Setelahnya baru akademis.

 

Dlm berHS,,perlu persiapan.

Niat karena ingin mendapat ridho Allah.

Arahnya mau ke mana.

Siap2 dg berbagai ujian sosial. 😄

 

BerHS mandiri bisa, tp dg berkomunitas akan semakin kuat krn bisa bersinergi.

 

Dg berHS anak bs lbh dekat dg ortu, utamanya ibu.

 

Nggak sekolah nggak apa2.

Yg nggak boleh itu nggak belajar.

 

Matematika 5 itu gpp. Nggak dosa.

Yg dosa itu kalo nggak shalat.

 

Sebesar apapun biaya yg dikeluarkan utk bayar sekolah anak, yg akan ditanya bukan gurunya, tapi orangtuanya.

 

Dengan ada orang2 yg berHS, semestinya pemerintah senang. Tdk perlu memikirkan dana BOS utk mereka. Berikan saja regulasi yg mudah.

 

Punya anak harus enjoy. Ingat bahwa dr mereka akan mengalir jariyah sepanjang masa.

 

Ortu HS tak harus serba bisa. Datangi pakar dan ahli utk mendapatkan ilmunya. Biasakan murid yg mendatangi guru, bukan guru yg mendatangi murid.

 

Setiap wanita wajib tahu psikologi perkembangan anak.

 

Tidak apa2 beda di hadapan manusia. Yang penting Allah ridho.

 

Sukses tidak bisa diukur dengan nilai rapot.

 

Ikutkan anak ke berbagai acara2 untuk melatih kemandirian, kerjasama tim, dan wahana sosialisasi.

 

Anak2 HS terbukti bisa kuliah di UI, ITB, Undip, UGM, bahkan Turki, Sudan, Madinah, dll.

🍀🍀🍀🍀

 

Semoga bermanfaat…

Mengenal Makna Bakat dan Potensi

RESUME KULWAP MATERI PENDAMPING HEBPA BEKASI🏼

 

📆 Senin, 16 Nov 2015

⌚ 19.30-21.00 Wib

SME tamu : Abah RAMA

Host & Notulis : Tissa Maharani

Materi : Mengenal konsep bakat dan potensi serta memetakan bakat anak

 

MATERI 👇🏼

 

MENGENAL KONSEP BAKAT  DAN POTENSI SERTA MEMETAKAN BAKAT ANAK-ANAK

 

Pengantar

Kalau Orang ditanya apa bakatnya biasanya butuh waktu untuk segera menjawab nya.

Bahkan tidak sedikit yang merasa tidak punya bakat

Mengapa demikian?

Salah satu alasan nya adalah karena tidak ada kesamaan definisi ttg BAKAT atau juga POTENSI

Yang pasti kalau ditanya Bakat atau Potensi Kekuatan atau bahkan Kompetensi maka jawabannya terdiri dari dua kelompok besar yaitu KATA SIFAT   atau  KATA KERJA dan sampai kapanpun sepertinya tidak akan ada usaha menyamakan definisi nya karena para penulis buku tentang bakat tidak mungkin akan bertemu

Yang penting kita faham adanya perbedaan tersebut.

Untuk mudahnya kita pilih definisi Kekuatan sbg 4E Activities (Enjoy Easy Excellent Earn)  yaitu Aktivitas yg membuat kita suka melakukan nya,  mudah melakukan nya, hasilnya bagus dan produktif.

 

Ada 2 sumber Potensi Kekuatan

Sumber Pertama yang sudah kita kenal adalah Keistimewaan fisik /pancaindera

Sumber ini menghasilkan Potensi Bidang seperti. Menyanyi,  melukis, memasak, olahraga dlsb

Sumber Kedua adalah Sifat Produktif seseorang (kita sebut sebagai BAKAT ) yang menghasilkan Potensi Peran seperti Memimpin,  Mengajar, Menganalisis, Merawat,  Memotivasi dlsb

Semuanya ada 45 klaster Potensi yaitu 30 Potensi Peran dan 15 Potensi Bidang

 

Bagaimana menggali dan menemukan BAKAT dan Potensi anak?

Kata kuncinya adalah Aktivitas yang Produktif ( Earn)

Artinya apabila seseorang pernah melakukan ke 45 aktivitas produktif diatas maka dia akan tahu mana yang Enjoy, Easy dan Excellent.

Tugas orang tua adalah memberikan fasilitas bagi anaknya untuk melakukan ke 45 aktivitas tersebut lakukan observasi pada aktivitas mana saya dia Enjoy Easy dan Excellent.

 

Khusus Untuk Potensi Peran Apabila anak kita belum ada kesempatan melakukan ke 30 aktivitas yang dimaksud maka orangtua bisa melihat dari sisi sifat produktif nya yang membentuk potensi kekuatan nya

Sedangkan, Potensi Bidang yang sumbernya bukan dari sifat melainkan dari fisik /pancaindera, aktivitas nya lebih mudah terlihat.

 

Catatan :

Dalam hal ini ada 2 istilah yang kita gunakan adalah sbb.

POTENSI : Aktivitas Produktif

Spt memimpin, mengajar, mengkoodinir, meneliti, membuat strategi dlsb

BAKAT PERAN : Sifat yang produktif

Spt keras berani,  harmoni, periang, bersahabat, pemikir,  empati, analisis dlsb

 

 

 

Curriculum Vitae Nara sumber :

 

Abah Rama – Abah Rama

Sarjana Teknik Fisika ITB angkatan 1964

Yang setelah bekerja di Astra, mendirikan beberapa perusahaan teknik.

Menjadi Dirut selama hampir 30 tahun dan pada umur 59 ketika “dipaksa”  oleh situasi membuat dan mencoba Talents Mapping, baru menyadari kalau Direktur itu bukan panggilan hidup

panggilan nya adalah “Guiding individual for Better Career and Organization for Higher Productivity ”

Mengajar adalah panggilan nya.

Untuk itu dia bersama timnya berhasil menemukan Tools.

baik untuk Strength based Psychology

Maupun Strength based Management

 

Dia baru sadar kenapa ketika menjadi direktur sering Stress

Sebelumnya dia menganggap bahwa stress adalah hal yang biasa sebagai Direktur utama.

Sekarang setelah menempati karir yang tepat maka kerja menjadi menyenangkan.

Enjoy Easy Excellent Earn

 

TANYA JAWAB

1.  Bunda gerhana nurhidayah

Assalamualaykum.. Abah rama…ada 45 potensi bakat  terdiri dari 30 potensi  peran dan 15 potensi bidang, perinciannya bisa tolong dijelaskan jenis jenisnya? Terima kasih

-> Abah Rama :

30 POTENSI PERAN 15 POTENSI BIDANG

45 kelompok kegiatan ini ditemukan tahun 2010 setelah adanya Strength Cluster pada tahun 2007.

Untuk kelompok potensi peran yang berjumlah 30 sudah dapat diakses melalui  situs gratis yaitu http://www.temubakat.com

Dengan bahasa yang sedikit berbeda

15 POTENSI BIDANG

1. ACTING = akting

2. BEAUTIFYING = menata kecantikan

3. VISUAL ART = seni lukis

4. MUSICAL ART = seni musik

5. SINGING  = menyanyi

6. MODELING = perasaan busana

7. DANCING = seni tari

8. COOKING = memasak

9. CONSERVING = memelihara lingkungan

10. MANUAL SPEED = kecepatan tangan

11. MANUAL DETAIL =kerajinan tangan

12. PHYSICAL =keterampilan fisik

13. PLANTING = bercocok tanam

14. SPORT = berolahraga

15. TENDING ANIMAL = memelihara binatang

 

30 POTENSI PERAN

Terbagi dalam 8 kelompok

 

Interpersonal diatas orang – RASA

‌ Commanding

‌ Mediating

‌ Arranging

‌ Selling

‌ Selecting

Interpersonal sejajar orang – RASA

‌ Communicating

‌ Representing

‌ Motivating

‌ Educating

Interpersonal dibawah orang – RASA

‌ Caring

‌ Serving

Individual otak kanan –  CIPTA

‌ Designing

‌ Creating

‌ Synthesizing

‌ Marketing

‌ Strategizing

‌ Visioning

Individual otak kiri atas – CIPTA

‌ Analyzing

‌ finance Accounting

Individual otak kiri bawah – CIPTA

‌Restoring

‌Evaluating

‌Exploring

Individual semangat indoor- KARSA

‌Writing

‌Interpreting

‌Administering

Individual semangat outdoor-KARSA

‌Producing

‌Quality Control

‌Safekeeping

‌Distributing

‌Operating ✅

 

 

2. Bunda inna

Assalamualaykum ..

Saya masih awam tentang potensi n bakat..

1. Mhn penjelasan tentang 45 aktivitas produktif?

Dan apakah ke 45 aktivitas tsb bisa dilaksanakan dirumah?

2. Bagaimana jika anak memiliki banyak (lebih dari 5) aktivitas yg dia enjoy, easy n excellent.. bgmana kesimpulannya?

Terima kasih…

 

-> Abah RAMA:

Diatas sdh disebut kan ke 45 aktivitas tersebut dan bisa dilakukan dirumah

Setiap orang punya passion di 4 sd 8 dari 30 aktivitas terkait peran

Kalau bakat yg terkait bidang  bisa 0 atau beberapa ✅

 

 

3. Ayah muji

Assalaamu’alaikum Abah, mohon pencerahannya

1. Anak saya baru 3 laki laki semua, usia 7, 5 dan 2 tahun. Saya selalu menggunakan media apa saja untuk meng”explorasi” anak , seperti botol bekas, kaleng bekas, kardus bahkan sampai jepitan baju, tapi sampai saat ini masih belum bisa “menemukan” apa atau kemana arah potensi anak saya, apakah memang belum saatanya, atau ada hal lain yang “terlewat” saya lakukan?

 

2. Apakah ketika mereka cerita tentang cita cita, itu merupakan salah satu petunjuk? Secara menurut pengamatn kami sebagai orang tuanya “agak ndak nyambung” antara cita cita dan aktivitas yg membuat mereka enjoy, misalnya: Anak pertama cita cita jadi PM (polisi Militer) tp saat ini sukanya gambar Mobil,ngutak atik barng2 bekas dg konsep robot ala dia Atau adenya cita2nya  petugas pemadam kebakaran tp pnya ktertarikan yg tinggi thd serangga,ini  mana yg hrs lbh dgali? Cita2 nya atau ksukaanny? Maaf jika pertanyaannya seperti curhat (kepanjangan), dan terima kasih atas jawabannya

 

-> Abah RAMA:

1. ‌Coba observasi mereka sesuai dengan ke 45  aktivitas diatas dan catat Enjoy Easy Excellent nya

2.‌ cita cita anak anak seringkali misleading terutama karena mereka belum mencoba beragam aktivitas dan tidak jarang mereka meniru ✅

 

4. Bunda Nia

Assalamualaikum Ustadz Rama, saya nia ibu 2 anak 3.5th dan 16 bulan.

Masih belum paham sepenuhnya cara mengetahui potensi dan bakat anak. Jadi maaf kalo borongan.

1. Mulai usia berapa 45 potensi bisa diobservasi?

2. Per potensi, observasinya berapa lama?

3. Apakah 4E itu harus ada semua? Misalkan, anak suka sekali dg kegiatan A, bisa berlama lama dg satu kegiatan itu tp sering merasa kesulitan. Terimakasih banyak sebelumnya.

 

 

-> Abah RAMA:

Bunda Septi Peni mencoba observasi mulai kelas 4 SD dengan aktivitas yg sesuai usia nya tentunya

Observasi berapa lama belum ada penelitian terutama karena mereka belum mengalami semua aktivitas tersebut

Saya dengan bunda Septi target kan 6 tahun sehingga di SMP kelas 3 mereka sdh menemukan dirinya, Tapi katanya bisa lebih cepat

4E tidak pada semua aktivitas. Di beberapa sekolah SD di Depok juga sedang ada observasi. Menggunakan konsep yg sama dimana guru dan ortu ikut memberi nilai (baru mulai 3 minggu lalu) ✅

 

 

5. Bunda meili

1. Bagaimana membuka wawasan agar anak menemukan minat dan bakatnya ? Anak saya perempuan berusia 14 th. Saat ini alhamdulillah terpilih sebagai Ketua Osis di sekolahnya.

2. Kami orang tua sepertinya sudah bisa melihat 4E pada anak. Sedang si Anak masih merasa bingung. Bagaimana kita sebagai orang tua harus bersikap ?

3. Kapan Pak Harry akan segera mengkoordinir utk test Talent Mapping lagi ? Biar anak saya bisa ikutan

 

-> Abah RAMA:

1.kalau sampai dia dipilih ketua osis dan dia bersedia sebenarnya perlu digali lebih dalam alasan nya dan juga perlu diobservasi bgm dia memimpin

2. Kemungkinan 4E anak yg sdh terlihat ortu ada di wilayah BAKAT PERAN untuk itu bisa coba http://www.temubakat.com. Lalu dikonfirmasi dengan sifatnya yang ada dihalaman berikutnya.

Sedangkan diwilayah bakat Bidang mestinya sang anak nggak Ada kebingungan

3. Iya nih sdh lama nggak jumpa mas Harry✅

 

 

 

6. Ayah indra

Jadi dalam praktiknya sebaiknya fokus pada POTENSI (kata kerja) atau BAKAT (kata sifat)? Dan mengapa tidak ada memetakan POTENSI anak, yang ada memetakan BAKAT anak?

 

-> Abah Rama :

Pertanyaan menarik nih. Yg disebut bakat itu definisi nya beda buku beda definisi

Ada yg menyatakan dengan kata kerja spt melukis memasak dlsb

Ada yang menyatakan dengan kata sifat spt komunikatif fleksibel dlsb

Yg pasti potensi dibentuk oleh sifat.

Jadi untuk melihat keunikan anak bisa dilihat dari 4E nya

Yg berarti dia harus melakukan aktivitas nya dulu

Bisa juga dari sifat produktif nya, minggu depan saya siapkan 34 SIFAT PRODUKTIF utk jadi bahan observasi ✅

 

 

7. Ummu Ehsan

1. Bagaimana cara menciptakan agar anak pnya bakat?

2. apa saja yg dilakukn orang tua aplg ank msh usia balita belum keliatan bakatny?

3. ciri anak tu berbakat dibidang tertentu ap saja?apalagi bakat di bidang potensi peran kadang suka tdk keliatan atw tidak disadari.itu bgmn pak?

 

->  Abah RAMA:

Bakat Tidak bisa di ciptakan tetapi di gali dan temukan

Tugas ortu adalah memfasilitasi agar anaknya punya kesempatan melakukan ke 45 aktivitas diatas

Selain itu juga amati sifat produktif nya ✅

 

 

8. Bunda Alin

Maaf kalo oot

Bagaimana cara melerai anak yang suka saling membully dan meredam kompetisi tidak sehat anak. Misal : anak A : ah kamu masih iqro 1 ke anak B (posisi anak A di iqro 3)

Terimakasih

 

-> Abah RAMA:

Ada penelitian ttg ini yang keliatan ny ada benar nya yaitu wajibkan anak anak berolahraga rutin. Minimal 4 kali seminggu

Saya sempat beberapa hari di Pekalongan melihat ada 3 sekolah SMK yg bersebelahan tetapi tidak pernah terjadi tawuran

Dan mereka semuanya kesekolah naik sepeda

Bisa jadi ini ada kaitannya ✅

 

 

9. Ayah setyoko

Anak 1 sy 8 tahun, kegiatan yg paling sering dilakukan membaca buku (terutama buku cerita iptek, kisah2, dongeng, fiksi anak ) dan setelahnya dengan semangat menceritakannya pd ortu. Aktifitas bermain fisik: bersepeda,

Jika diberi kesempatan betah sekali nonton atau main game.

 

Bagaimana cara mengenali potensi dan bakatnya?

Aktifitas mana yg bisa dipakai utk melihat potensi&bakatnya?

 

-> Abah RAMA:

Dari sisi sifat  nya baru terlihat  communication dan Learner

Kalau motif nya memajukan orang lain maka juga ada sifat Developer

Jadi observasi lagi sifat lainnya Apakah dia Teliti Apakah dia teratur dlsb

Nanti deh kita bahas yg 34 sifat produktif nya ✅

 

 

10. Bunda Utami

Abah.. saya msh bngung dg penjelasan ttg 30 potensi peran.

Interpersonal di atas org, Interpersonal dibawah org, Interpersonal sejajar dg org, Mksd ny gmna ya?

 

-> Abah RAMA:

Dalam  berhubungan dengan orang lain ada 3 level

Ada yg ingin nya mempengaruhi dan meyakinkan orang, ada yang suka bekerja sama, Ada juga yang suka nya melayani

Coba bunda utami liat rincian aktivitas dari masing masing level tersebut ✅

 

Oo di atas orang maksudnya yg mempengaruhi dan meyakinkan orang, sejajar dgn orang yg suka bekerja sama,yg dibawah orang yang sukanya melayani.

Gitu ya bah?

Benar bunda

 

11. Bunda Gerhana Nurhidayah

Assalamualaykum.. Abah rama boleh bertanya lagi…

1. apa aja yang jadi penghambat di temukannya potensi bakat anak

2.bagaimana pendapat abah jika seorang anak tidak di gali fitrah bakatnya,hanya di fokuskan ke fitrah akhlak,belajar dan iman

3.bagaimana menurut abah apakah tes bakat instan hasilnya benar benar bisa di pertanggung jawabkan

 

 

-> Abah Rama :

1. 90 persen orang merasa bakat itu nggak penting krn yg penting adalah kerja keras padahal bakat adalah jalan sukses sedangkan kerja keras dan pantang menyerah adalah cara sukses

2. ada dua macam karakter yaitu karakter kinerja dan karakter moral

bakat adalah karakter kinerja yang tujuannya adalah mendapatkan hasil sebanyak mungkin, Bakat ini sangat unik

karakter moral tujuan nya adalah beramal atau berkontribusi sebanyak banyaknya  karakter moral itu universal mengacu kepada yang terbaik dalam hal kita ini tentunya nabi Muhammad saw

cara belajar nya juga berbeda kalau bakat krn unik maka harus digali dan disalurkan  kalau moral harus dicontohkan

3. tes minat bakat itu sdh ada puluhan sampai ratusan tahun yg sampai sekarang masih terus dikembangkan dengan berbagai pendekatan yang berbeda jadi hasil nya belum ada yg 100 karena yang bisa merasakan 4E nya adalah yg ber sangkutan

terlebih lagi kalau bicara jalan sukses itu adalah urusan kita langsung dengan Allah sedang kan cara sukses sepenuhnya  urusan masing-masing

itu juga alasan mengapa minimal 17 sehari kita berdoa untuk ditunjukkan jalan yang lurus bukan cara yang benar

Trik Mengatasi Perilaku Buruk Anak ala Ayah Edy

Sahabat ayah bunda tercinta apa kabarnya hari ini?

Semoga selalu diberikan keberkahan dan kebahagiaan bersama keluarga.

Oh iya ngomong-ngomong apakah ayah bunda pernah mengalami kesulitan dalam “mengatasi” perilaku anak-anak kita ?

Nah kalau ayah bunda pernah atau bahkan sering mengalaminya, mungkin sharing pengalaman kami ini bisa membantu ayah bunda sekalian.

Yuk sambil mengisi waktu senggang di akhir pekan kita baca artikel ini

TANYA:
Tolong dong ayah, kayaknya aku merasa kesulitan sekali untuk mengatasi prilaku buruk anakku nih…, Tolong di jawab ya….

Begitu kira-kira bunyi komen seorang ibu yang juga sekaligus ingin curcol, ingin mengeluh sekaligus ingin menemukan solusi.

JAWAB AYAH EDY:

Sahabat ku para orang tua sejawat,

Banyak orang tua berkata bahwa “Ayah tolong dong, saya merasa kesulitan sekali mengatasi perilaku-perilaku buruk anak saya”.

Menurut pengalaman saya 10 tahun jadi orang tua dari 2 orang anak yang luar biasa dengan beda usia hanya 1,5 tahun.

Ternyata yang sesungguhnya saya alami adalah saya bukan kesulitan dalam mengatasi perilaku buruk anak saya tapi justru “saya merasa kesulitan sekali dalam MENGATASI PERILAKU BURUK SAYA SENDIRI,

“Ya perilaku buruk saya, orang tuanya yang pada akhirnya di contoh oleh anak saya”.

Jadi akhirnya yang saya lakukan adalah menjalani self therapy atau menterapi diri sendiri supaya saya bisa mengubah prilaku-perilaku buruk saya yang di contoh oleh anak saya.

Dan betul saja ternyata itu tidak mudah…!
Perlu waktu, niat besar, usaha keras, ketekunan dan kesabaran yang tiada batasnya, untuk bisa berubah setahap demi setahap.

Semisal untuk tidak lagi menjadi orang tua yang cepat marah, untuk tidak lagi menjadi orang tua yang berbicara dengan nada tinggi, untuk tidak lagi berbohong pada anak, untuk bisa lebih sering tersenyum ketimbang membentak, untuk menjadi orang tua yang sering memuji ketimbang mencela, untuk menjadi lebih mau menerima mereka apa adanya ketimbang menuntut, untuk menjadi orang tua yang lebih mau mendengar dari pada selalu menasehati

Untuk mau dengan sabar menjawab pertanyaan anakku yang tak henti-hentinya sepanjang hari tentang apa saja yang menurut kita (orang dewasa) “tidak penting” untuk di jawab.

Ya Pertanyaan anakku yang datang bertubi-tubi tanpa henti bahkan terkadang hingga aku sudah terkantuk-kantuk mau tidur ia masih saja terus bertanya.

Tapi tentu saja hasilnya sepadan dengan jerih payah yang sudah kita lakukan.

Yes !!!! Anak kita mulai berubah menjadi baik dan lebih baik lagi dari hari ke hari. Sehingga hidup ini semakin terasa indah dan bahagia bersama anak kita dan anak kita juga merasa bahagia hidup bersama kita.

Jadi sesungguhnya menurut pengalaman saya, PARENTING BUKANLAH HANYA ILMU UNTUK MENDIDIK ANAK, MELAINKAN LEBIH KEPADA ILMU BAGAIMANA KITA MAMPU MENGUBAH SEMUA PERILAKU BURUK MENJADI LEBIH BAIK LAGI.

PARENTING SESUNGGUHNYA LEBIH KEPADA ILMU UNTUK MENDIDIK KITA SENDIRI SEBAGAI ORANG TUA, YANG PERILAKUNYA SETIAP SAAT AKAN DI CONTOH OLEH ANAK.

Benar sekali ! karena ternyata sesungguhnya perilaku anak kita hanyalah cerminan dari perilaku orang tuanya sehari-hari.

Persis seperti sebuah pepatah lama yang mengatakan “like father like son”, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Tidak mungkin kita bisa membuat anak kita berperilaku baik jika kita sendiri tidak berusaha memberikan contoh yang baik kepadanya.

Namun ternyata belajar Parenting itu tidak pernah ada kata akhir, semakin kita belajar semakin sering kita menemukan perilaku2 yang kurang baik yang perlu “segera” kita ubah.

Dan mengapa perlu SEGERA ? karena jika tidak segera kita ubah, maka anak kita pun akan segera menirunya.

Jangan tunggu sampai anak kita besar, karena semakin bertambah usianya akan semakin sulit mengubahnya.

by ayah edy
www.ayahkita.com

Bincang WA: HomeEducation Bersama Ust. Harry Santosa

Share dari FB :


RESUME Kajian tgl.5 november 2015, Ustd. Harry santosa

Bismillahirrahmanirrahiem…
malam ini barangkali kita berdiskusi rileks saja ya, untuk mendengar pengalaman dan curhat bunda sekalian dalam keseharian mendidik anak anak, lalu kita belajar bersama menemukan dan menggali hal hal mendasar yang sering kita lupakan dalam menjalani peran sebagai orangtua sehingga sering mengundang berbagai masalah dalam mendidik yang semestinya tidak perlu terjadi.

Anak anak kita sesungguhnya bukan milik kita, dan bukti bahwa kita bukan yang menciptakan mereka adalah bahwa kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya “purpose” anak anak kita di muka bumi. Barangkali anak kita lahir dengan perencanaan dan mungkin juga banyak yang lahir tanpa perencanaan. Tetapi Allah SWT pasti punya rencana/purpose terhadap kelahiran anak anak kita di muka bumi. Maka tugas kita adalah menemani anak anak kita menemukan alasan keberadaannya di muka bumi. Semua alasan keberadaan anak anak di muka bumi pada galibnya sebenarnya nampak dari sifat bawaan atau karakteristiknya sejak lahir. Inilah yang terekam dalam fitrah tiap anak, kami menyebutnya fitrah bakat. Dalam konsep Islam tidak ada anak yang lahir seperti piring kosong atau kertas kosong, tetapi mereka lahir sudah terinstal fitrah, diantaranya fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah gender, fitrah estetika, fitrah perkembangan dstnya. Maka pendidikan sesungguhnya adalah proses menemani anak anak kita untuk membangkitkan semua fitrahnya itu agar mencapai peran peradaban atau puspose penciptaan Allah SWT.
Amanah pendidikan fitrah anak ini khusus dibebankan kepada orangtua dan akan ditanya dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Karenanya pendidikan anak tidak boleh didelegasikan dan dioutsource kepada siapapun.

Ini pengantar dari saya, silahkan bertanya atau menambahkan atau menanggapi 

Tanya :
Ustad bagaimana karakteristik dominan anak usia 7-8 thn dan bagaimana cara menghadapi usia tsb?
Jawab :
Bunda yang baik,
Sebelumnya mohon maaf, saya masih sering menemukan kata2 tidak ramah fitrah dalam mendidik anak, misalnya “bagaimana menghadapi”, “bagaimana mengatasi”, “bagaimana menangani”, “bagaimana mengisi” dstnya.
Sekali lagi mohon maaf, kata kata ini sebenarnya banyak dipengaruhi oleh pendekatan negatif, bahwa anak anak kita kosong, kurang, rentan, lemah dstnya. 
Akibatnya, dalam merancang pendidikan anak anak kita, nanti kita lebih cenderung mendominasi, mengintervensi, mendikte, dll yang ujungnya adalah obsesif, panik dan stress sendiri.
Sesungguhnya anak anak akan bersikap sebagaimana kita memandang mereka, begitu bukan?

Maka bahasanya mulai kita rubah menjadi bagaimana menemani, bagaimana mendorong (encourage), bagaimana berempati, bagaimana mendengar dengan telinga, hati, dan kaki atas keunikan cara merasa, cara berfikir, cara bertindak anak anak kita dstnya.
Bahasa seperti ini lebih menenangkan dan full syukur dan ridha, ketimbang bahasa2 negatif yang kita sering dengar dari dunia persekolahan.

Sejak Uisa 7 tahun, anak kita sudah mulai bergeser dari dominan ego sentris, perlahan ke sosio sentris. Setelah pada usia sebelumnya, dirinya adalah pusat semesta, kini anak anak mulai menyadari bahwa dirinya adalah makhluk sosial, ada dunia di luar dirinya, baik alam, manusia maupun Tuhan. Karenanya di usia ini anak mulai punya tanggungjawab sosial secara bertahap. Mereka harus mulai menyadari bahwa ada hukum dan konsekuensi di alam sekitarnya.
Karenanya secara syariah, sholat mulai dikenalkan sebagai perintah pada usia ini.
Usia 7- 10 adalah golden age bagi perkembangan fitrah belajar, maka anak anak di usia ini sangat suka belajar terutama eksplorasi di alam terbuka, suka petualangan dsbnya.
Peran ortu pada tahap ini adalah sebagai Guide.
Kedekatan pada usia 7-10, anak lelaki didekatkan ke ayah, krn ada peran2 sosial spt sholat berjamaah dll yang “lelaki banget”.
Sementara anak perempuan didekatkan ke bunda dengan alasan yang sama.

 Tanya :Menghadapi anak yg mulai beranjak remaja membuat orangtua belajar menjadi temannya…sampai batas dimana kita bertindak sebagai orangtua dan sampai batas mana kita bertindak sebagai teman ?
 Jawab :
Bunda yang baik,
Sesungguhnya Istilah remaja (adolescence / Teenager) tidak pernah dikenal Islam, bahkan menurut Prof Sarlito Wirawan, dunia dan peradaban manapun tidak pernah mengenal istilah remaja sampai abad 19. Remaja adalah kelas sosial yang diciptakan revolusi industri untuk kepentingan ekonomi dan politik.
Islam hanya mengenal istilah anak anak (sebelum aqilbaligh) dan pemuda (sesudah aqilbaligh), Secara biologis baligh ditandai dengan ihtilam pada anak lelaki dan haidh pada anak perempuan. Maka diharapkan kedewasaan psikologis, sosial, emosional juga bisa tiba bersamaan, agar jelas posisinya bahwa bukan anak anak lagi ketika aqilbaligh, Mengapa? Karena ketika aqil dan baligh bersamaan maka wajib memikul beban syariah dan statusnya sudah setara dengan orangtuanya. Maka peran orangtua ketika anak anaknya sudah jadi pemuda tentulah sebagai teman atau partner, ya karena sudah setara.
Cuma sayangnya banyak anak yang sudah baligh di usia 11-12 ternyata aqilnya ketika kelar kuliah di usia 22 – 24. Inilah sumber konflik dan masalah.

Jika di usia 0-7 peran orangtua sebagai fasilitator, usia 7 – 10 sebagai guide, usia 10- 15 sebagai coach/pembimbing akhlak/bakat, maka di usia di atas 15 peran orangtua sebagai Partner.
Ingat bahwa usia >15, anak anak kita, bukan anak anak lagi. Kesalahan terbanyak dan terbesar orangtua adalah terus menganggap dan memperlakukan mereka sebagai anak anak.
Sejak usia 14-15 ini sesungguhnya mereka sudah setara dengan kedua orangtuanya dalam syariah maupun status orangdewasa di masyarakat, walau baru punya KTP di usia 17.
Maka karena sudah “dewasa” mereka akan “susah diatur”, ini wajar. Tidak ada orang dewasa yang suka diatur. Mereka senang berkumpul dengan kelompoknya, ini wajar. Setiap orang dewasa akan punya “geng” atau jamaah yg sesuai minat dan pengakuan eksistensi sosial mereka. Dan seterusnya.
Karenanya, jika pendidikan tidak dipersiapkan agar dewasa psikologis, sosial, finansial dll tepat mandiri di usia 15, akan ada banyak masalah dan konflik. Misalnya tdak mau diatur, tapi tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Suka ngegeng tapi bukan geng produktif dll. Suka menghabiskan sumberdaya tapi sama sekali tidak produktif.
Sebuah jurnal psikologi thn 2012, merekomendasikan para orangtua bersikap terhadap usia 15 ke atas sbb ;
1. Hentikan obrolan yang menganggap mereka anak anak
2. Kurangi tugas2 rutin rumah seperti cuci piring, mengepel dll, tetapi perbanyak tugas2 sosial untuk aktualisasi diri mereka seperti gerakan hijau, berdakwah, gerakan sosial, bukakan rekening dan bikinkan passport dan visa, magangkan kerja di perusahaan sendiri atau kolega, dll
3. Raja tega. Kalau melihat mereka masih seperti anak2, keenakan menjadi benalu di rumah, tidak fokus pada masa depan dll, maka “usir” mereka untuk mandiri, dorong untuk rantau, inapkan di tempat orang2 sholeh yang produktif di sosial dan bisnis dll Jika masih dinafkahi, beri mereka tekanan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kurangi subsidi dari 50% sampai zero.
4. Tetap cinta, tetap dorong tapi jangan merusak kedewasaan mereka dengan memfasilitasi banyak hal. Ingat bahwa secara syariah mereka telah aqilbaligh dan pemuda pria muslim tidak wajib dinafkahi lagi. Kita dilarang meninggalkan generasi lemah di belakang kita.
5. Jadikan mereka partner bisnis, partner dakwah, partner dalam perjuangan ayahbunda mewujudkan misi keluarga (tiap keluarga beda)

Tanya :
Ternyata salah faham ya slama ini dan ilmu baru buat kita smua, Bahwa aqil dan baligh adalah berbeda, mohon koreksinya ustad atas per nyataan saya bahwa aqil dan baligh berbeda, Apakah arti secara harfiahnya ustad ?
Jawab :
Aqil dan baligh memang berbeda
baligh artinya telah sampai (ini nature, alamiah)
aqil artinya telah beraqal (ini perlu pendidikan, nurture), secara istilah baligh adalah kedewasaan biologis
secara istilah aqil adalah kedewasaan selain biologis (psikologis, finansial, sosial, emosional dll)
keduanya adalah syarat seseorang dibebankan syariah.
jadi kalau tidak kita didik aqilnya, agar aqil dan baligh memenuhi syarat memikul syariah, lalu buat apa kita ajarkan sholat, puasa, zakat. alQuran dll.

Tanya :
Bagaimana menumbuhkan kecintaan beribadah pada anak usia 7-9 tahun tanpa paksaan dan tanpa mereka di takuti neraka dan dosa ?
Jawab
Bunda yang baik,
Golden Age bagi pembangkitan fitrah keimanan atau aqidah, idealnya di usia 0-7 tahun. Di usia 0-7 tahun, alam bawah sadar anak anak masih terbuka, imaji imaji sedang berada pada puncaknya. Kita bisa bangkitkan gairah cinta dan ridha anak anak kita pada Allah, pada RasulNya, pada Kebenaran, dll secara alamiah lebih efektif di usia 0-7. Karenanya Rasulullah SAW mendidik cucunya agar cinta Sholat dengan membiarkan menunggangi beliau hingga puas, sehingga cucunya punya imaji indah tentang sholat “wow sholat keren banget”. Jadi mendidik sholat bukan dengan bacaan ketat dan tata tertib kaku yang membuat anak tegang atau trauma. Jika anak sudah cinta sholat di usia 0-7 maka ketika disampaikan sholat sebagai perintah di usia 7 dia akan menyambut suka cita dan mendalaminya sendiri semua terkait rukun dsbnya..
Secara metode, fitrah keimanan dibangkitkan dengan keteladanan dan atmosfir keshalehan. Ini berlaku untuk semua usia. Sholat adalah indikator perkembangan fitrah keimanan. Jika sholatnya bergairah maka fitrah keimanannya juga bergairah, jika sholatnya terpaksa atau sekedar menggugurkan kewajiban atau takut pd ortu, maka begitulah nasib fitrah keimanan.
Fitrah keimanan ini sudah ada sejak lahir, ketika Allah meminta persaksian kpd setiap manusia di alam rahim, “Bukankah Aku Robbmu”, lalu kita semua berkata “Benar, sungguh kami bersaksi”.
Jadi sesunggunya tinggal dibangkitkan saja, Namun jika sampai usia 7 ketika diperintah Shalat nampak tidak bergairah, ayah bunda harus segera mencari akar masalahnya, jangan menginterogasi ya, tetapi berdialog. Ada kemungkinan fitrah keimanannya tertutupi sesuatu, misalnya guru agama di TK galak, atau salah persepsi tentang sholat sebagai sesuatu yang memberatkan. Saya pernah melihat di sebuah PAUD dan SD, gurunya nampak malas malasan mengajak anak anak sholat, ada juga yang ketus dan menegangkan, Nah please check.
Fitrah keimanan sejatinya memang seperti keimanan, hanya butuh keteladanan dan suasana yang menyenangkan dan memotivasi kebahagiaan, tidak membutuhkan pemaksaan.
Jika masih dipaksa atau terpaksa, maka ada yang salah dengan prosesnya. Silahkan check dan ulangi prosesnya.

Tanya :
Ustadz ..benarkan dalam mendidik anak perlakukan seperti ini.. anak 0-7 tahun perlakukan mereka seperti raja.. 7-14 tahun perlakukan seperti tawanan dan 14-21 tahun seperti teman..
Jawab :
Bunda, itu adalah ucapan Sayidina Ali,
Secara matan tidak bertentangan dengan AlQuran maupun Sains perkembangan.
Namun perlu dicatat bahwa kewajiban mendidik ayah bunda pada anak anaknya telah berakhir ketika anak anak sudah AqilBaligh, karenanya perlakuan setelah aqilbaligh (14-15) sebagai partner atau kolega atau teman, Yang saya gali dari pendidikan Islam, justru titik kritis mendidik ada di usia pre aqilbaligh, di usia 11-15 tahun. Ini fase terberat sepanjang masa anak anak, karena mereka harus aqil ketika baligh, jika tidak ingin menjadi bocah berkepanjangan

Tanya :
Bagaimanakah petikan kata kata sayidina ali sesungguhnya ustad karna gita sering dengar bahwa fase kedua adalah prajurit bukan tawanan, Dan fase ketiga adalah penasehat ?
Jawab :
Saya sendiri sebenarnya tidak memakai Atsar ini,
saya menggali dari Sirah dan AlQuran lalu Sains
sehingga diperoleh angka 0,2,7,10, 14
lalu saya melihat 0-2 menyusui
2-7 Nabi SAW dirawat oleh Halimah. Bermain, Bahasa Ibu, Belajar bersama Alam, Beternak, Menaiki Bukit dll (Ortu sebagai Fasilitator)
7-10 Nabi SAW dirawat oleh Paman dan Ummu Aiman. Belajar Bermasyarakat dan sosial (Guide)
11-14 Nabi SAW ikutmagang bersama Pamannya. Belajar bersama Maestro (Coach)
15 Nabi SAW sudah mandiri. Begitupula para Sahabat2 Muda seperti Usamah ra mandiri di usia ini.

Tanya :
Saya tinggal di jepang saat ini, dimana muslim minoritas, saya sangat khawatir terhadap pendidikan putri saya kelak..apakah akan memudar dan hilang..mohon pencerahan ustad ?

Jawab :
Bunda di Jepang, semoga bunda tetap tenang dan rileks.
Saya sarankan jika masih di bawah usia 14-15 sebaiknya fokus di HomeEducation atau sampai Aqil (mampu dan konsisten memilih kebenaran). Silahkan pertimbangkan potensi sekitarnya. Jika banyak kearifan yang sejalan dengan syariah tidak ada masalah. Biasanya kearifan selalu baik, tetapi ada kebiasaan setempat yang buruk. Jika imunitas internal anak cukup tidak masalah, tetapi jika “virusnya” eksternal terlalu banyak bisa terpapar parah.
Lingkungan dan pergaulan besar pengaruhnya memang benar, tetapi semua tergantung kekuatan internal anak anak kita untuk imun dan istiqomah. Nah, syaratnya sudah Aqil (dewasa psikologis, sosial, emsional, spiritual dll).
Hari ini anak anak bisa terkoneksi dengan komunitas “seiman”, memilah milah mana yang produktif dan mana yang beresiko merusak. Jadi lakukan perencanaan dan pertimbangan mendalam.

Tanya :
Ustad memang lingkungan sangat berpengaruh terhadap Karakter anak…namun menurut ustad ilmu apakah yg harus di kuasai oleh seorang ibu sebagai madrasah pertama bagi anak anaknya ?

Jawab :
Bunda yang baik,
Mendidik anak adalah Sains and Art.
Ilmu penting, tetapi Seni juga penting.
Banyak yang paham tapi tidak tidak tahu seni menerapkannya. Banyak hadir dalam pelatihan dan seminar parenting, akhirnya seperti efek bulan madu, hanya semangat beberapa pekan atau bulan lalu “kacau” lagi dan galau lagi.
Tidak setiap tips parenting berhasil pada sebuah keluarga berhasil pada keluarga lain, karena tiap keluarga berbeda dan unik.
Ilmu yang utama adalah Yakin dan Syukur terhadap Fitrah Anak Anak kita.
Ilmu yang kedua adalah Shabar dan Optimis mengerami fitrah anak anak kita agar menetas indah sempurna, harum mewangi menebar manfaat dan rahmat bagi peradaban yang lebih baik. Karenya kita harus menggali apa itu fitrah, mengapa Allah memberikan fitrah pada anak anak kita, mengapa Rasulullah SAW mengatakan setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah dan lingkungan serta orangtuanya lah yang merubahnya menjadi nasrani, yahudi maupun majusi. Mengapa orangtua tidak dikatakan merubah fitrah anak anaknya menjadi
Islam, mengapa?
Karena mendidik bukan menjejalkan, bukan banyak mendikte, bukan banyak intervensi, bukan lebay obsesif, atau lalai pesimis dstnya, tetapi mendidik adalah menemani anak anak kita membangkitkan fitrah (inside out). Ya kita hanya menemani semata, semua potensi baik sudah tersedia.
Nah jika ini sudah kita pahami dan hayati baik baik, maka langkah berikutnya akan ringan.

🌷Tanya :
Ustadz banyak orang tua yang mengambil jalan pintas jika mendapati anak nya susah diatur kemudian dikirim ke pesantren, apakah salah atau yg seharus nya seperti apa?

🍀Jawab :
Saudari yang baik,
Pesantren dalam arti homestay atau menitipkan anak pada “keluarga” shalih dengan sosok ayah ibu lengkap, ada haditsnya. Anak anak di atas 7 tahun, bahkan sampai aqilbaligh memerlukan keteladanan di luar rumah, salah satunya dengan HomeStay. Seperti menginap sepekan bahkan sampai beberapa bulan.

Tetapi pesantren dalam arti mengasramakan (boarding) tidak ada rujukan dalilnya dalam Islam.

Pesantren dalam arti boarding, boleh saja asal anak sudah aqilbaligh (>14-15 tahun), sudah memiliki keinginan dan bakat yang jelas. Ke pesantren karena aqalnya sudah sempurna, karena ingin mendalami ilmu tertentu atas keinginan sendiri dstnya.

Sebelum aqilbaligh, kami tidak merekomendasikan memboarding schioolkan anak, apalagi menjadikan pesantren layaknya Shaolin Temple, menitipkan anak nakal supaya jadi “rahib”. Ini cara berfikir dan tradisi kependetaan agama budha dan gereja.

Anak remaja “nakal” di pesantren tidak menyelesaikan masalah, mereka akan merasa dibuang. Apalagi jika modelnya boarding, tanpa sosok ayahbunda utuh, hanya senior per group. Kasus2 bully, narkoba, depresi, bunuhdiri, sampai homoseksual sudah dipahami luas banyak terjadi dalam model boarding school. Tapi kasusnya disimpan erat erat di bawah karpet, mohon maaf, krn menyangkut nama baik agama dan pesantren. Ini bukan
kasus di Indonesia saja, hampir kebanyakan model boarding school mengalami hal ini, apabila yang dikirim adalah anak anak yang belum matang, belum aqilbaligh, terpaksa atau dikarantina.

🌷Tanya :
Maaf ustad klo sudah menjdi “nakal” bagaimana kita menemaninya?

🍀Jawab :
Remaja, berarti baligh namun belum aqil, kalau belum aqil, sebaiknya tidak diboarding, akan tambah parah umumnya. Jika bisa di homestaykan pada sosok yang akhlaknya baik dan bakatnya sesuai remaja tsb. begini, filosofinya adalah tidak ada seorangpun anak yang diciptakan nakal dan jahat oleh Allah SWT.
tidak ada seorangpun anak yang berdoa agar jadi nakal dan jahat apalagi ingin masuk neraka, yang ada adalah kita tidak pernah mengenalnya dengan sebaik baiknya, kita malas menggali “sisi cahaya” nya, lebih suka menonjolkan “sisi kegelapan” nya. Hampir semua masyarakat di dunia sejak perang dunia ke dua kena syndrome ini. Begitupula pada anak anak kita sendiri, apalagi anak orang lain.

🌷Tanya :
Berarti mindset kita yg salah sebagai orangtua pun harus di perbaiki ya ustadz?

🍀Jawab :
ya memang syarat mendidik adalah fitrah ayahbunda nya harus di “suci” kan dulu, dikembalikan kepada fitrahnya sebagai orangtua. Agar nyambung fitrah baik anak anaknya dengan fitrah baik ortunya. Klop.
Jika tidak, maka fitrah buruk ortunya akan merusak fitrah baik anak anaknya.
Tapi kabar baiknya, ketika seseorang diamanahi anak, maka sesungguhnya Allah penuhi dadanya dengan hikmah yang banyak. Orangtua yg obesif, lalai, tidak yakin pada potensi anaknya, sibuk menambal kelemahan anaknya sementara membiarkan kekuatan anaknya, dstnya apalagi sampai membenci anaknya, menyakiti dll adalah gejala fitrah orangtua yang “menyimpang”.

🍀Tanya :
Ustad apabila ada seorang anak usia 8 thn. Tinggal bersama nenek dan kakeknya yg mngalami masalah komunikasi yg pelik dan tidak kondusif bagaimana seharusnya ayah dan ibunya lakukan ?
🌷Jawab :
Perihal anak usia 8 tahun yang tinggal sama nenek dan kakeknya, ini sebenarnya sangat zhalim ya sama orangtua, walau kakek nenek mungkin seneng2 aja dititipi. Tetapi ingat kakek nenek ini bukan usia nya lagi untuk mendidik, mereka hanya ada rasa sayang, terutama jika sudah uzur.
Alasan klasik umumnya karena ayahbundanya bekerja.
Saran saya, penuhilah panggilan Allah untuk mendidik anak sendiri, maka Allah akan memampukan kita. Jangan khawatir kekurangan rezqi. Jika fitrah anak anak kita menyimpang, mohon maaf, recovery nya susah, belum tentu tuntas seumur hidupnya. Semua pakar pendidikan, psikolog, parenting dll tidak pernah ada yang merekomendasikan menyerahkan pendidikan anak kepada siapapun sampai anak siap mandiri atau mencapai aqilbaligh di usia 14-15.

🌷Tanya :
Ustad, mohon maaf ..
Keadaannya tidak demikian , kebingungan yang dimiliki orang tua adalah ketika orang tua saya, bercerai, tinggal satu rumah, tidak berbicara satu sama lain ..

Disisi lain, saya menyelamatkan anak saya Dari keadaan yang sangat tidak kondusif ..

Kebingungan ini yang akhirnya saya memutuskan untuk menyelamatkan anak saya dari keadaan ..

Saya tidak ingin kemudian hari anak saya menjadi tidak sehat kehidupannya ..

Bagaimana menurut ustad ?
Saya, adalah anak, juga orang tua .. Kebingungan ini yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan demikian ..
Again, keadaan realita tidak seindah apa yang ustad utarakan ..

Saya bingung ustad ..
Syukron 🙏🏼
🍀Jawab :
ya mohon maaf, saya tidak mengetahui kedalaman masalahnya, latar belakang yang baru bunda ceritakan dsbnya. Namun intinya sosok ayah ibu yang baik harus ada sepanjang hidup anak sejak 0-15 tahun. Sosok orang2 yang ada di sekitar anak sangat berperan dalam membangun imaji2nya tentang dirinya, ttg masyarakatnya, ttg alamnya bahkan tentang Allah. Setiap imaji negatif akan membuat luka persepsi, dan setiap luka persepsi akan membentuk pensikapan yang buruk ketika dewasa kelak. Kebahagiaan di masa kecil akan membentuk kepribadiannya kelak. Karenanya jika lingkungannya tidak kondusif, bahkan buruk wajib hijrah dengan segera.
Kebingunan bunda juga bisa berpengaruh terhadap perkembangan psikologis ananda, ingat bahwa anak amat perasa dan pengamat yg jeli.
Barangkali teman2 di group ini bisa bersama memberikan solusinya ?

🌷Jazakumullah khairan katsiran ustad. Mudah mudahan bisa sedikit memberi solusi. Jika ustad ada kelapangan waktu lagi smoga kiranya berkenan kembali berbagi kepada kami.
🍀Jawab :
InshaAllah, ini keberkahan buat kita semua kan, saling berbagi, saling menasehati
🌷Syukron ustad 🙏🏼
🍀Jawab :
🙏 mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, saya semata2 menyampaikan pemahaman dan pengalaman, Jazakumullah, kehormatan buat saya hadir bersama para Ibu peradaban 😊🙏 Tetap yakin dan syukur, shabar dan optimis, tenang dan istiqomah ya dalam mendidik anak anak kita., pada khalifah cilik di rumah kita. Wassalamualaikum wr wb
🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸 🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸
RESUME Kajian tgl.5 november 2015, Ustd. Harry santosa

💐Bismillahirrahmanirrahiem…
malam ini barangkali kita berdiskusi rileks saja ya, untuk mendengar pengalaman dan curhat bunda sekalian dalam keseharian mendidik anak anak, lalu kita belajar bersama menemukan dan menggali hal hal mendasar yang sering kita lupakan dalam menjalani peran sebagai orangtua sehingga sering mengundang berbagai masalah dalam mendidik yang semestinya tidak perlu terjadi.

Anak anak kita sesungguhnya bukan milik kita, dan bukti bahwa kita bukan yang menciptakan mereka adalah bahwa kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya “purpose” anak anak kita di muka bumi. Barangkali anak kita lahir dengan perencanaan dan mungkin juga banyak yang lahir tanpa perencanaan. Tetapi Allah SWT pasti punya rencana/purpose terhadap kelahiran anak anak kita di muka bumi. Maka tugas kita adalah menemani anak anak kita menemukan alasan keberadaannya di muka bumi. Semua alasan keberadaan anak anak di muka bumi pada galibnya sebenarnya nampak dari sifat bawaan atau karakteristiknya sejak lahir. Inilah yang terekam dalam fitrah tiap anak, kami menyebutnya fitrah bakat. Dalam konsep Islam tidak ada anak yang lahir seperti piring kosong atau kertas kosong, tetapi mereka lahir sudah terinstal fitrah, diantaranya fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah gender, fitrah estetika, fitrah perkembangan dstnya. Maka pendidikan sesungguhnya adalah proses menemani anak anak kita untuk membangkitkan semua fitrahnya itu agar mencapai peran peradaban atau puspose penciptaan Allah SWT.
Amanah pendidikan fitrah anak ini khusus dibebankan kepada orangtua dan akan ditanya dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Karenanya pendidikan anak tidak boleh didelegasikan dan dioutsource kepada siapapun.

Ini pengantar dari saya, silahkan bertanya atau menambahkan atau menanggapi 😊🙏

🌷Tanya :
Ustad bagaimana karakteristik dominan anak usia 7-8 thn dan bagaimana cara menghadapi usia tsb?
🍀Jawab :
Bunda yang baik,
Sebelumnya mohon maaf, saya masih sering menemukan kata2 tidak ramah fitrah dalam mendidik anak, misalnya “bagaimana menghadapi”, “bagaimana mengatasi”, “bagaimana menangani”, “bagaimana mengisi” dstnya.
Sekali lagi mohon maaf, kata kata ini sebenarnya banyak dipengaruhi oleh pendekatan negatif, bahwa anak anak kita kosong, kurang, rentan, lemah dstnya. 😊🙏
Akibatnya, dalam merancang pendidikan anak anak kita, nanti kita lebih cenderung mendominasi, mengintervensi, mendikte, dll yang ujungnya adalah obsesif, panik dan stress sendiri.
Sesungguhnya anak anak akan bersikap sebagaimana kita memandang mereka, begitu bukan?

Maka bahasanya mulai kita rubah menjadi bagaimana menemani, bagaimana mendorong (encourage), bagaimana berempati, bagaimana mendengar dengan telinga, hati, dan kaki atas keunikan cara merasa, cara berfikir, cara bertindak anak anak kita dstnya.
Bahasa seperti ini lebih menenangkan dan full syukur dan ridha, ketimbang bahasa2 negatif yang kita sering dengar dari dunia persekolahan.

Sejak Uisa 7 tahun, anak kita sudah mulai bergeser dari dominan ego sentris, perlahan ke sosio sentris. Setelah pada usia sebelumnya, dirinya adalah pusat semesta, kini anak anak mulai menyadari bahwa dirinya adalah makhluk sosial, ada dunia di luar dirinya, baik alam, manusia maupun Tuhan. Karenanya di usia ini anak mulai punya tanggungjawab sosial secara bertahap. Mereka harus mulai menyadari bahwa ada hukum dan konsekuensi di alam sekitarnya.
Karenanya secara syariah, sholat mulai dikenalkan sebagai perintah pada usia ini.
Usia 7- 10 adalah golden age bagi perkembangan fitrah belajar, maka anak anak di usia ini sangat suka belajar terutama eksplorasi di alam terbuka, suka petualangan dsbnya.
Peran ortu pada tahap ini adalah sebagai Guide.
Kedekatan pada usia 7-10, anak lelaki didekatkan ke ayah, krn ada peran2 sosial spt sholat berjamaah dll yang “lelaki banget”.
Sementara anak perempuan didekatkan ke bunda dengan alasan yang sama.

🌷 Tanya :Menghadapi anak yg mulai beranjak remaja membuat orangtua belajar menjadi temannya…sampai batas dimana kita bertindak sebagai orangtua dan sampai batas mana kita bertindak sebagai teman ?
🍀 Jawab :
Bunda yang baik,
Sesungguhnya Istilah remaja (adolescence / Teenager) tidak pernah dikenal Islam, bahkan menurut Prof Sarlito Wirawan, dunia dan peradaban manapun tidak pernah mengenal istilah remaja sampai abad 19. Remaja adalah kelas sosial yang diciptakan revolusi industri untuk kepentingan ekonomi dan politik.
Islam hanya mengenal istilah anak anak (sebelum aqilbaligh) dan pemuda (sesudah aqilbaligh), Secara biologis baligh ditandai dengan ihtilam pada anak lelaki dan haidh pada anak perempuan. Maka diharapkan kedewasaan psikologis, sosial, emosional juga bisa tiba bersamaan, agar jelas posisinya bahwa bukan anak anak lagi ketika aqilbaligh, Mengapa? Karena ketika aqil dan baligh bersamaan maka wajib memikul beban syariah dan statusnya sudah setara dengan orangtuanya. Maka peran orangtua ketika anak anaknya sudah jadi pemuda tentulah sebagai teman atau partner, ya karena sudah setara.
Cuma sayangnya banyak anak yang sudah baligh di usia 11-12 ternyata aqilnya ketika kelar kuliah di usia 22 – 24. Inilah sumber konflik dan masalah.

Jika di usia 0-7 peran orangtua sebagai fasilitator, usia 7 – 10 sebagai guide, usia 10- 15 sebagai coach/pembimbing akhlak/bakat, maka di usia di atas 15 peran orangtua sebagai Partner.
Ingat bahwa usia >15, anak anak kita, bukan anak anak lagi. Kesalahan terbanyak dan terbesar orangtua adalah terus menganggap dan memperlakukan mereka sebagai anak anak.
Sejak usia 14-15 ini sesungguhnya mereka sudah setara dengan kedua orangtuanya dalam syariah maupun status orangdewasa di masyarakat, walau baru punya KTP di usia 17.
Maka karena sudah “dewasa” mereka akan “susah diatur”, ini wajar. Tidak ada orang dewasa yang suka diatur. Mereka senang berkumpul dengan kelompoknya, ini wajar. Setiap orang dewasa akan punya “geng” atau jamaah yg sesuai minat dan pengakuan eksistensi sosial mereka. Dan seterusnya.
Karenanya, jika pendidikan tidak dipersiapkan agar dewasa psikologis, sosial, finansial dll tepat mandiri di usia 15, akan ada banyak masalah dan konflik. Misalnya tdak mau diatur, tapi tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Suka ngegeng tapi bukan geng produktif dll. Suka menghabiskan sumberdaya tapi sama sekali tidak produktif.
Sebuah jurnal psikologi thn 2012, merekomendasikan para orangtua bersikap terhadap usia 15 ke atas sbb ;
1. Hentikan obrolan yang menganggap mereka anak anak
2. Kurangi tugas2 rutin rumah seperti cuci piring, mengepel dll, tetapi perbanyak tugas2 sosial untuk aktualisasi diri mereka seperti gerakan hijau, berdakwah, gerakan sosial, bukakan rekening dan bikinkan passport dan visa, magangkan kerja di perusahaan sendiri atau kolega, dll
3. Raja tega. Kalau melihat mereka masih seperti anak2, keenakan menjadi benalu di rumah, tidak fokus pada masa depan dll, maka “usir” mereka untuk mandiri, dorong untuk rantau, inapkan di tempat orang2 sholeh yang produktif di sosial dan bisnis dll Jika masih dinafkahi, beri mereka tekanan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kurangi subsidi dari 50% sampai zero.
4. Tetap cinta, tetap dorong tapi jangan merusak kedewasaan mereka dengan memfasilitasi banyak hal. Ingat bahwa secara syariah mereka telah aqilbaligh dan pemuda pria muslim tidak wajib dinafkahi lagi. Kita dilarang meninggalkan generasi lemah di belakang kita.
5. Jadikan mereka partner bisnis, partner dakwah, partner dalam perjuangan ayahbunda mewujudkan misi keluarga (tiap keluarga beda)

🌷Tanya :
Ternyata salah faham ya slama ini dan ilmu baru buat kita smua, Bahwa aqil dan baligh adalah berbeda, mohon koreksinya ustad atas per nyataan saya bahwa aqil dan baligh berbeda, Apakah arti secara harfiahnya ustad ?
🍀Jawab :
Aqil dan baligh memang berbeda
baligh artinya telah sampai (ini nature, alamiah)
aqil artinya telah beraqal (ini perlu pendidikan, nurture), secara istilah baligh adalah kedewasaan biologis
secara istilah aqil adalah kedewasaan selain biologis (psikologis, finansial, sosial, emosional dll)
keduanya adalah syarat seseorang dibebankan syariah.
jadi kalau tidak kita didik aqilnya, agar aqil dan baligh memenuhi syarat memikul syariah, lalu buat apa kita ajarkan sholat, puasa, zakat. alQuran dll.

🌷Tanya :
Bagaimana menumbuhkan kecintaan beribadah pada anak usia 7-9 tahun tanpa paksaan dan tanpa mereka di takuti neraka dan dosa ?
🍀Jawab
Bunda yang baik,
Golden Age bagi pembangkitan fitrah keimanan atau aqidah, idealnya di usia 0-7 tahun. Di usia 0-7 tahun, alam bawah sadar anak anak masih terbuka, imaji imaji sedang berada pada puncaknya. Kita bisa bangkitkan gairah cinta dan ridha anak anak kita pada Allah, pada RasulNya, pada Kebenaran, dll secara alamiah lebih efektif di usia 0-7. Karenanya Rasulullah SAW mendidik cucunya agar cinta Sholat dengan membiarkan menunggangi beliau hingga puas, sehingga cucunya punya imaji indah tentang sholat “wow sholat keren banget”. Jadi mendidik sholat bukan dengan bacaan ketat dan tata tertib kaku yang membuat anak tegang atau trauma. Jika anak sudah cinta sholat di usia 0-7 maka ketika disampaikan sholat sebagai perintah di usia 7 dia akan menyambut suka cita dan mendalaminya sendiri semua terkait rukun dsbnya..
Secara metode, fitrah keimanan dibangkitkan dengan keteladanan dan atmosfir keshalehan. Ini berlaku untuk semua usia. Sholat adalah indikator perkembangan fitrah keimanan. Jika sholatnya bergairah maka fitrah keimanannya juga bergairah, jika sholatnya terpaksa atau sekedar menggugurkan kewajiban atau takut pd ortu, maka begitulah nasib fitrah keimanan.
Fitrah keimanan ini sudah ada sejak lahir, ketika Allah meminta persaksian kpd setiap manusia di alam rahim, “Bukankah Aku Robbmu”, lalu kita semua berkata “Benar, sungguh kami bersaksi”.
Jadi sesunggunya tinggal dibangkitkan saja, Namun jika sampai usia 7 ketika diperintah Shalat nampak tidak bergairah, ayah bunda harus segera mencari akar masalahnya, jangan menginterogasi ya, tetapi berdialog. Ada kemungkinan fitrah keimanannya tertutupi sesuatu, misalnya guru agama di TK galak, atau salah persepsi tentang sholat sebagai sesuatu yang memberatkan. Saya pernah melihat di sebuah PAUD dan SD, gurunya nampak malas malasan mengajak anak anak sholat, ada juga yang ketus dan menegangkan, Nah please check.
Fitrah keimanan sejatinya memang seperti keimanan, hanya butuh keteladanan dan suasana yang menyenangkan dan memotivasi kebahagiaan, tidak membutuhkan pemaksaan.
Jika masih dipaksa atau terpaksa, maka ada yang salah dengan prosesnya. Silahkan check dan ulangi prosesnya.

🌷Tanya :
Ustadz ..benarkan dalam mendidik anak perlakukan seperti ini.. anak 0-7 tahun perlakukan mereka seperti raja.. 7-14 tahun perlakukan seperti tawanan dan 14-21 tahun seperti teman..
🍀Jawab :
Bunda, itu adalah ucapan Sayidina Ali,
Secara matan tidak bertentangan dengan AlQuran maupun Sains perkembangan.
Namun perlu dicatat bahwa kewajiban mendidik ayah bunda pada anak anaknya telah berakhir ketika anak anak sudah AqilBaligh, karenanya perlakuan setelah aqilbaligh (14-15) sebagai partner atau kolega atau teman, Yang saya gali dari pendidikan Islam, justru titik kritis mendidik ada di usia pre aqilbaligh, di usia 11-15 tahun. Ini fase terberat sepanjang masa anak anak, karena mereka harus aqil ketika baligh, jika tidak ingin menjadi bocah berkepanjangan

🌷Tanya :
Bagaimanakah petikan kata kata sayidina ali sesungguhnya ustad karna gita sering dengar bahwa fase kedua adalah prajurit bukan tawanan, Dan fase ketiga adalah penasehat ?
🍀Jawab :
Saya sendiri sebenarnya tidak memakai Atsar ini,
saya menggali dari Sirah dan AlQuran lalu Sains
sehingga diperoleh angka 0,2,7,10, 14
lalu saya melihat 0-2 menyusui
2-7 Nabi SAW dirawat oleh Halimah. Bermain, Bahasa Ibu, Belajar bersama Alam, Beternak, Menaiki Bukit dll (Ortu sebagai Fasilitator)
7-10 Nabi SAW dirawat oleh Paman dan Ummu Aiman. Belajar Bermasyarakat dan sosial (Guide)
11-14 Nabi SAW ikutmagang bersama Pamannya. Belajar bersama Maestro (Coach)
15 Nabi SAW sudah mandiri. Begitupula para Sahabat2 Muda seperti Usamah ra mandiri di usia ini.

🌷Tanya :
Saya tinggal di jepang saat ini, dimana muslim minoritas, saya sangat khawatir terhadap pendidikan putri saya kelak..apakah akan memudar dan hilang..mohon pencerahan ustad ?

🍀Jawab :
Bunda di Jepang, semoga bunda tetap tenang dan rileks.
Saya sarankan jika masih di bawah usia 14-15 sebaiknya fokus di HomeEducation atau sampai Aqil (mampu dan konsisten memilih kebenaran). Silahkan pertimbangkan potensi sekitarnya. Jika banyak kearifan yang sejalan dengan syariah tidak ada masalah. Biasanya kearifan selalu baik, tetapi ada kebiasaan setempat yang buruk. Jika imunitas internal anak cukup tidak masalah, tetapi jika “virusnya” eksternal terlalu banyak bisa terpapar parah.
Lingkungan dan pergaulan besar pengaruhnya memang benar, tetapi semua tergantung kekuatan internal anak anak kita untuk imun dan istiqomah. Nah, syaratnya sudah Aqil (dewasa psikologis, sosial, emsional, spiritual dll).
Hari ini anak anak bisa terkoneksi dengan komunitas “seiman”, memilah milah mana yang produktif dan mana yang beresiko merusak. Jadi lakukan perencanaan dan pertimbangan mendalam.

🌷Tanya :
Ustad memang lingkungan sangat berpengaruh terhadap Karakter anak…namun menurut ustad ilmu apakah yg harus di kuasai oleh seorang ibu sebagai madrasah pertama bagi anak anaknya ?

🍀Jawab :
Bunda yang baik,
Mendidik anak adalah Sains and Art.
Ilmu penting, tetapi Seni juga penting.
Banyak yang paham tapi tidak tidak tahu seni menerapkannya. Banyak hadir dalam pelatihan dan seminar parenting, akhirnya seperti efek bulan madu, hanya semangat beberapa pekan atau bulan lalu “kacau” lagi dan galau lagi.
Tidak setiap tips parenting berhasil pada sebuah keluarga berhasil pada keluarga lain, karena tiap keluarga berbeda dan unik.
Ilmu yang utama adalah Yakin dan Syukur terhadap Fitrah Anak Anak kita.
Ilmu yang kedua adalah Shabar dan Optimis mengerami fitrah anak anak kita agar menetas indah sempurna, harum mewangi menebar manfaat dan rahmat bagi peradaban yang lebih baik. Karenya kita harus menggali apa itu fitrah, mengapa Allah memberikan fitrah pada anak anak kita, mengapa Rasulullah SAW mengatakan setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah dan lingkungan serta orangtuanya lah yang merubahnya menjadi nasrani, yahudi maupun majusi. Mengapa orangtua tidak dikatakan merubah fitrah anak anaknya menjadi
Islam, mengapa?
Karena mendidik bukan menjejalkan, bukan banyak mendikte, bukan banyak intervensi, bukan lebay obsesif, atau lalai pesimis dstnya, tetapi mendidik adalah menemani anak anak kita membangkitkan fitrah (inside out). Ya kita hanya menemani semata, semua potensi baik sudah tersedia.
Nah jika ini sudah kita pahami dan hayati baik baik, maka langkah berikutnya akan ringan.

🌷Tanya :
Ustadz banyak orang tua yang mengambil jalan pintas jika mendapati anak nya susah diatur kemudian dikirim ke pesantren, apakah salah atau yg seharus nya seperti apa?

🍀Jawab :
Saudari yang baik,
Pesantren dalam arti homestay atau menitipkan anak pada “keluarga” shalih dengan sosok ayah ibu lengkap, ada haditsnya. Anak anak di atas 7 tahun, bahkan sampai aqilbaligh memerlukan keteladanan di luar rumah, salah satunya dengan HomeStay. Seperti menginap sepekan bahkan sampai beberapa bulan.

Tetapi pesantren dalam arti mengasramakan (boarding) tidak ada rujukan dalilnya dalam Islam.

Pesantren dalam arti boarding, boleh saja asal anak sudah aqilbaligh (>14-15 tahun), sudah memiliki keinginan dan bakat yang jelas. Ke pesantren karena aqalnya sudah sempurna, karena ingin mendalami ilmu tertentu atas keinginan sendiri dstnya.

Sebelum aqilbaligh, kami tidak merekomendasikan memboarding schioolkan anak, apalagi menjadikan pesantren layaknya Shaolin Temple, menitipkan anak nakal supaya jadi “rahib”. Ini cara berfikir dan tradisi kependetaan agama budha dan gereja.

Anak remaja “nakal” di pesantren tidak menyelesaikan masalah, mereka akan merasa dibuang. Apalagi jika modelnya boarding, tanpa sosok ayahbunda utuh, hanya senior per group. Kasus2 bully, narkoba, depresi, bunuhdiri, sampai homoseksual sudah dipahami luas banyak terjadi dalam model boarding school. Tapi kasusnya disimpan erat erat di bawah karpet, mohon maaf, krn menyangkut nama baik agama dan pesantren. Ini bukan
kasus di Indonesia saja, hampir kebanyakan model boarding school mengalami hal ini, apabila yang dikirim adalah anak anak yang belum matang, belum aqilbaligh, terpaksa atau dikarantina.

🌷Tanya :
Maaf ustad klo sudah menjdi “nakal” bagaimana kita menemaninya?

🍀Jawab :
Remaja, berarti baligh namun belum aqil, kalau belum aqil, sebaiknya tidak diboarding, akan tambah parah umumnya. Jika bisa di homestaykan pada sosok yang akhlaknya baik dan bakatnya sesuai remaja tsb. begini, filosofinya adalah tidak ada seorangpun anak yang diciptakan nakal dan jahat oleh Allah SWT.
tidak ada seorangpun anak yang berdoa agar jadi nakal dan jahat apalagi ingin masuk neraka, yang ada adalah kita tidak pernah mengenalnya dengan sebaik baiknya, kita malas menggali “sisi cahaya” nya, lebih suka menonjolkan “sisi kegelapan” nya. Hampir semua masyarakat di dunia sejak perang dunia ke dua kena syndrome ini. Begitupula pada anak anak kita sendiri, apalagi anak orang lain.

🌷Tanya :
Berarti mindset kita yg salah sebagai orangtua pun harus di perbaiki ya ustadz?

🍀Jawab :
ya memang syarat mendidik adalah fitrah ayahbunda nya harus di “suci” kan dulu, dikembalikan kepada fitrahnya sebagai orangtua. Agar nyambung fitrah baik anak anaknya dengan fitrah baik ortunya. Klop.
Jika tidak, maka fitrah buruk ortunya akan merusak fitrah baik anak anaknya.
Tapi kabar baiknya, ketika seseorang diamanahi anak, maka sesungguhnya Allah penuhi dadanya dengan hikmah yang banyak. Orangtua yg obesif, lalai, tidak yakin pada potensi anaknya, sibuk menambal kelemahan anaknya sementara membiarkan kekuatan anaknya, dstnya apalagi sampai membenci anaknya, menyakiti dll adalah gejala fitrah orangtua yang “menyimpang”.

🍀Tanya :
Ustad apabila ada seorang anak usia 8 thn. Tinggal bersama nenek dan kakeknya yg mngalami masalah komunikasi yg pelik dan tidak kondusif bagaimana seharusnya ayah dan ibunya lakukan ?
🌷Jawab :
Perihal anak usia 8 tahun yang tinggal sama nenek dan kakeknya, ini sebenarnya sangat zhalim ya sama orangtua, walau kakek nenek mungkin seneng2 aja dititipi. Tetapi ingat kakek nenek ini bukan usia nya lagi untuk mendidik, mereka hanya ada rasa sayang, terutama jika sudah uzur.
Alasan klasik umumnya karena ayahbundanya bekerja.
Saran saya, penuhilah panggilan Allah untuk mendidik anak sendiri, maka Allah akan memampukan kita. Jangan khawatir kekurangan rezqi. Jika fitrah anak anak kita menyimpang, mohon maaf, recovery nya susah, belum tentu tuntas seumur hidupnya. Semua pakar pendidikan, psikolog, parenting dll tidak pernah ada yang merekomendasikan menyerahkan pendidikan anak kepada siapapun sampai anak siap mandiri atau mencapai aqilbaligh di usia 14-15.

🌷Tanya :
Ustad, mohon maaf ..
Keadaannya tidak demikian , kebingungan yang dimiliki orang tua adalah ketika orang tua saya, bercerai, tinggal satu rumah, tidak berbicara satu sama lain ..

Disisi lain, saya menyelamatkan anak saya Dari keadaan yang sangat tidak kondusif ..

Kebingungan ini yang akhirnya saya memutuskan untuk menyelamatkan anak saya dari keadaan ..

Saya tidak ingin kemudian hari anak saya menjadi tidak sehat kehidupannya ..

Bagaimana menurut ustad ?
Saya, adalah anak, juga orang tua .. Kebingungan ini yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan demikian ..
Again, keadaan realita tidak seindah apa yang ustad utarakan ..

Saya bingung ustad ..
Syukron 🙏🏼
🍀Jawab :
ya mohon maaf, saya tidak mengetahui kedalaman masalahnya, latar belakang yang baru bunda ceritakan dsbnya. Namun intinya sosok ayah ibu yang baik harus ada sepanjang hidup anak sejak 0-15 tahun. Sosok orang2 yang ada di sekitar anak sangat berperan dalam membangun imaji2nya tentang dirinya, ttg masyarakatnya, ttg alamnya bahkan tentang Allah. Setiap imaji negatif akan membuat luka persepsi, dan setiap luka persepsi akan membentuk pensikapan yang buruk ketika dewasa kelak. Kebahagiaan di masa kecil akan membentuk kepribadiannya kelak. Karenanya jika lingkungannya tidak kondusif, bahkan buruk wajib hijrah dengan segera.
Kebingunan bunda juga bisa berpengaruh terhadap perkembangan psikologis ananda, ingat bahwa anak amat perasa dan pengamat yg jeli.
Barangkali teman2 di group ini bisa bersama memberikan solusinya ?

🌷Jazakumullah khairan katsiran ustad. Mudah mudahan bisa sedikit memberi solusi. Jika ustad ada kelapangan waktu lagi smoga kiranya berkenan kembali berbagi kepada kami.
🍀Jawab :
InshaAllah, ini keberkahan buat kita semua kan, saling berbagi, saling menasehati
🌷Syukron ustad 🙏🏼
🍀Jawab :
🙏 mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, saya semata2 menyampaikan pemahaman dan pengalaman, Jazakumullah, kehormatan buat saya hadir bersama para Ibu peradaban 😊🙏 Tetap yakin dan syukur, shabar dan optimis, tenang dan istiqomah ya dalam mendidik anak anak kita., pada khalifah cilik di rumah kita. Wassalamualaikum wr wb
🌸🍃🌸

Tentang Rasa

Siang ini Faqih mau bikin percobaan tentang aneka macam rasa.

Semua sibuk membantu persiapan percobaan ini.

Berbagai alat dan bahan disiapkan, antara lain:

6 gelas bening dg bentuk yg sama diisikan air putih matang, air hangat, air garam, air asam jawa, air gula, dan air rebusan daun pepaya.

Letakkan semua jenis air dalam gelas tadi di atas meja.

Kenakan penutup mata.

Suapkan sesendok air kepada si tester. Tester harus menyebutkan rasa yang dia terima.

Sebelum melanjutkan ke rasa berikutnya, tester harus minum atau berkumur dg air netral terlebih dahulu. Lanjutkan hingga semua rasa telah dicoba.

Pada oercobaan hari ini, setiap melalui rasa asin dan pahit, faqih berekspresi sangat lucu, sehingga sodara2nya tertawa geli. Dan tidak hanya satu putaran saja, Faqih maunya lagi dan lagi, walau harus melalui berbagai jenis rasa, termasuk yg pahit.

Sempat dia bertanya, apakah ada resiko jika minum air daum pepaya yg pahit itu. Saya katakan, justru air daun pepaya itu, meskipun pahit rasanya tetapi berkhasiat untuk kesehatan tubuh kita. Mungkin itu yang membuat faqih mau mencoba lagi dan lagi.

Dan tentu saja karena serunya percobaan ini, yang mampu membuat kami tertawa lepas melihat ekspresi wajah faqih yang memang kocak.

Inilah percobaan sains kami hari ini. Mana percobaanmu?🙂